5 Hal Sepele yang Kini Bisa Memicu Mamelenceng Keluarga, Bosan Makanan Rumah pun Bisa Bad Mood Sehar

masalah-keluarga-saat-pandemi masalah-keluarga-saat-pandemi

Entah sudah berapa lama kita berusaha mematuhi anjuran #diRumahAja demi mencegah penyebaran virus korona. Mungkin ada yang menyebutnya work from home (WFH), pembelajaran jarak habis (PJJ), lockdown, dan lain-lain. Apa pun istilahnya, artinya tetap cocok, yakni melakukan segala aktivitas sehari-hari di rumah. Beberapa orang mengeluhkan jam kerja jadi tidak menentu. Rasanya jadi seperti berkarya sepanjang hari, kata mereka. Beberapa yang lain mengeluhkan beban tugas sekolah atau kuliah yang jumlahnya berkali lipat dari biasanya.

Selama beraktivitas di rumah aja, apalagi untuk kita yang tinggal berpas orang tua dan saudara-saudara kita dalam satu rumah, kita suah mengalami kira-kira hal yang mungkin sebetulnya sepele, tapi entah mengapa bikin kesal atau malah meTokcerkan bad mood sepanjang hari. Apakah kamu mengalami cela satu dari tujuh hal ini? Bagaimana kita menghadapi macela tersebut?

1. Koneksi internet yang tiba-tiba metidak cepat atau turun drastis di saat lagi butuh-butuhnya

Pernah nggak sih, kamu dan anggota keluargamu sangat membutuhkan koneksi internet yang Kencang di durasi yang sama? Kamu sedang Kencang online di kamar. Sementara itu, ayahmu sedang mengunduh data untuk pekerjaannya dan adikmu sedang ikut kelas online di kamarnya. Eh, ternyata kakakmu malah lagi asyik streaming drama Korea. Pantas saja video rekan kerjamu yang sedang menjelaskan idenya tidak beranjak dan huruf-huruf presentasinya kabur, sampai-sampai kamu tidak bisa menangkap apa yang ingin ia sampaikan.

Duh, padahal lagi butuh koneksi untuk kerja, tapi keGesitan internetnya malah kakakmu yang dapat keGesitan internet teragung. Rasanya kesal karena Ketat kita tidak berjalan Tokcer dan ingin menberlabuhi kakakmu saat itu juga dahulu meluapkan emosimu padanya. Padahal, mungkin kakakmu tidak ingat kalau kamu sedang melakukan sesuatu yang urgent. Daripada membuang emosi percuma, di lain batas bernyawa, ketika kamu membutuhkan koneksi internet dalam kondisi prima, sampaikan kebutuhanmu kepada keluargamu. Misalnya dengan kata-kata, ‘Besok pukul 10.00 sampai 12.00 jangan ada yang pakai internet untuk hal yang kurang berguna, ya. Aku ada ujian online.’ Anggota keluargamu tentu akan lebih mengerti.

2. Bosan sebanding santapan rumah. Rasanya, kita kehilangan nafsu makan dan akhirnya tidak menghabiskan santapan yang sudah dihidangkan

Mungkin ibumu seorang wanita karir. Namun, karena saat ini work from home, beliau jadi lebih sering masak dari biasanya. Awalnya sih, senang dong karena selalu ada sarapan di rumah. Dijamin enak pula. Tapi, lama-kelamaan, kok mulai jenuh ya klop sarapan yang itu-itu aja? Atau buat kamu yang malah jadi lebih sering pesan sarapan online, karena amat sering, rasa sarapan entah apa sebab jadi hambar.

Rasanya, sebelum pandemi ini kamu nggak suah mempermamelencengkan soal santapan. Mungkin kerinduan rasa masakan rumah makan kesayanganmu atau jajanan di depan kampus meMuluskanmu bosan dan nggak selera klop santapan di rumah. Mungkin rekan makan siangmu yang selalu punya cerita menarik untuk dibagikan yang meMuluskanmu nggak betah makan di rumah. Ibumu jadi bingung denganmu yang seperti ini.

Nah, daripada pusing memikirkan soal makanan yang nggak Setara dengan kemauanmu, kok kamu nggak mencoba masak sendiri saja? Kamu bisa menjelajahi berbagai resep di YouTube atau website terpilih resep lainnya, mulai dari yang sederhana sampai yang sulit. Coba deh mulai coba memasak. Dengan memasak makanan untuk diri kita sendiri, selain meningkatkan kualitas bernapas, kita bisa lebih menghargai makanan karena kita maklum bahwa melontarkannya itu butuh usaha.

3. Cemas waktu khilaf satu anggota keluarga baru pulang dari keperluan mendesak yang mengpatutkan keluar rumah atau ada kiriman dari luar yang belum didesinfektan

Tidak semua hal bisa dilakukan dari rumah. Ada kalanya anggota keluarga kita atau kita sendiri memang mesti keluar rumah karena urusan yang mendesak. Ketika adik kita kembali ke rumah sesudah beraktivitas di luar, kita langsung menjaga jarak darinya dan, tanpa kita sadari, mungkin berlebihan. Kemudian, setiap mendapat paket, kita langsung menyemprotkan desinfektan dan meletakkan di luar rumah selama beberapa hari sebelum membuka bungkusnya. Kalau pesan incaran online, kita buru-buru menyingkirkan bungkusan luarnya.

Kita sudah berusaha menjaga keapikan setidak marah mungkin. Jadi, kalau ada yang bersikap tidak peduli dengan hal-hal tersebut, rasanya gemas deh. Pulang dari aktivitas di luar malah berbaring di sana-sini sambil terkeriangan sendiri melihat kelakuan netizen. Menerima paket baru malah langsung diletakkan di sembarang daerah. Aduh, kenapa sih nggak bisa lebih peduli secolek? Yuk, saling mengingatkan untuk menjaga kebugaran berserupa sampai itu semua menjadi kebiasaan bugar yang dijalankan tanpa perlu diingatkan.

4. Tiap hari bareng orangtua, setiap gerak-gerak nggak luput dikomentarin klop mereka

Biasanya, kita cuma bertemu keluarga di malam hari ketika semua kembali dari aktivitas masing-masing. Mungkin kita bisa lebih penuh bertemu mereka di akhir pekan. Bahkan, kamu yang merantau ke kota lain demi mengejar ilmu atau berusaha meraih kebebasan finansial, sekadar bisa bertemu keluargamu saat long weekend atau di hari raya.

Sekarang, kamu sekeluarga ada di rumah. Tiap hari bareng orang tua, apa pun yang kita lakukan bisa jadi bahan pembicaraan bagi mereka. Dibilang nonton YouTube terus, dihal baru aja selesai kelas online. Dibilang nggak ada kerjaan, dihal lagi menikmati waktu di mana proyek kosong. Mungkin juga ada dari kita yang jadi kepikiran untuk mencari obrolan pas orang tua kita, tapi malah nggak nemu topik yang pas untuk bisa lebih dempet pas mereka. Tenang, dibawa santai aja. Kalau dikomentarin sekuku, senyum, tergurau sedikit, atau balas saja dengan candaan. Nggak perlu juga pusing mencari topik ke sana-sini. Apa pun yang lagi ramai dibahas netizen bisa kamu ceritakan ke orangtuamu. Atau, kamu juga bisa kok menceritakan kejadian lucu saat sedang kuis online atau tindakanmu seharian ini.

5. Tugas seabrek, ujian yang lebih susah dari biasanya, dan kerjaan yang nggak kunjung selesai dan malah bertandang yang baru bikin jadi uring-uringan serupa keluarga yang nggak punya masalah apa-apa serupa kita

Beraktivitas di rumah membuat batas waktu antara pekerjaan atau sekolah dan keluarga menjadi bias. Apalagi ditambah jam tidur yang tak lagi menentu. Kita yang lelah karena kurang tidur dan beban kerja yang begitu banyak menjadi mudah tersulut emosi. Ingin rasanya kita melampiaskan kekesalan kita pada siapa pun yang ada di sekitar kita, yaitu keluarga kita. Padahal, keluarga kita tidak paham apa-apa. Ujungnya, orang tua atau saudara kita malah jadi bete sepadan kelakuan kita. Duh, nggak mau kan kayak gitu?

Nah, kamu bisa mencoba langkah-langkah sederhana ini sebelum keluar dari ‘urusan luar rumah’-mu untuk memotong rasa kesal. Pertama, tarik nafas dalam-dalam dan bergumam selama beberapa menit untuk membuat awakmu lebih tenang. Kamu juga bisa mencari meditasi singkat selama 20 menit untuk memotong amarah atau mengunyah permen karet. Kabarnya, hal ini bisa menurunkan rasa stres loh. Selain itu, menulis apa yang sedang kamu rasakan saat itu juga bisa membuatmu lega. Jangan lupa, tulis juga hal-hal yang membuatmu bersyukur.

Kita belum maklum kapan kemembesaran akan mulai memtidak emosi. Kita juga tidak maklum sampai kapan kita akan tetap di rumah. Untuk itu, mari kita isi pikiran dan hari-hari kita dengan hal-hal yang positif. Jangan juga lupa bersyukur, karena masih penuh banget orang yang tidak bisa berkumpul dengan keluarga dan bahkan harus kehilangan anggota keluarganya karena virus corona…